Pink Walrus

alaska-bering-sea-bristol-bay-round-island-walrus-islands-stwildlife-AGHCM2.jpgsuatu senja
aku teringat pink walrus
sambil menganalisa
kamu yang tak dapat kubaca
dari aku yang mungkin
lebih pantas sendiri
memang ingin sendiri
aku melukis pink walrus
di tembok lurus penuh noda
lalu masa kini
aku membaca lagi
tanpa lampu
aku menyanyi pink walrus
tanpa lirik
aku menggoda pink walrus
tanpa suara

Advertisements

Mengapa Perempuan Dilarang Naik Mimbar: Tafsiran Seorang Perempuan terhadap I Korintus 14:34-35 dan I Timotius 2:11-15

Latar Belakang
Sampai sekarang masih menjadi isu di beberapa gereja di Indonesia bahwa perempuan dilarang “naik mimbar.“ Naik mimbar yang dimaksud di sini adalah berkhotbah. Beberapa gereja yang melarang perempuan untuk berkhotbah tersebut beralasan bahwa Alkitab sendiri yang melarang perempuan untuk mengajar dan berkhotbah. Pemahaman tersebut didasarkan pada penafsiran terhadap beberapa ayat dalam Alkitab, antara lain I Kor. 14:34-35 dan I Tim. 2:11-15.
 
Kedua ayat ini disampaikan oleh Rasul Paulus. Apakah memang Rasul Paulus melarang perempuan naik mimbar? Apakah Rasul Paulus seorang sexist dan mysoginist, melihat ungkapan-ungkapannya yang keras mengenai perempuan di ayat-ayat ini?
 
Menurut saya, Paulus bukan seorang sexist, apalagi mysoginist. Paulus yang mantan Yahudi, seorang patriarkhi, menunjukkan perubahan paradigmanya mengenai perempuan, contohnya dalam Galatia 3:28 Dalam hal ini tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus. Paulus menempatkan laki-laki dan perempuan sebagai sesuatu yang setara di hadapan Tuhan. Oleh sebab itu, menurut saya tidak mungkin jika Paulus merendahkan perempuan.
 
Lalu apa alasannya Paulus menulis pernyataan-pernyataan dalam I Korintus 14:34 dan I Timotius 2:12? Atau jangan-jangan, ayat-ayat tersebut seharusnya ditafsirkan secara berbeda, bukan untuk melarang wanita mengajar dan berkhotbah? Mari kita melihat konteksnya.
 
1.       I Korintus 14:34-35
I Korintus 14:34-35 Sama seperti dalam semua Jemaat orang-orang kudus, perempuan-perempuan harus berdiam diri dalam pertemuan-pertemuan Jemaat. Sebab mereka tidak diperbolehkan untuk berbicara. Mereka harus menundukkan diri, seperti yang dikatakan juga oleh hukum Taurat. Jika mereka ingin mengetahui sesuatu, baiklah mereka menanyakannya kepada suaminya di rumah. Sebab tidak sopan bagi perempuan untuk berbicara dalam pertemuan Jemaat.
 
Banyak tafsiran yang dibuat untuk menafsirkan ayat 34-35 ini, termasuk tafsiran harafiah bahwa perempuan dilarang berbicara dalam pertemuan ibadah.Tafsiran ini didasarkan karena kata-kata Paulus pada ayat 34, “ Sama seperti dalam semua Jemaat orang-orang kudus, perempuan-perempuan harus berdiam diri dalam pertemuan-pertemuan Jemaat.“ Mereka beralasan bahwa pelarangan perempuan untuk bicara dalam pertemuan-pertemuan ibadah adalah bersifat universal, bahkan sampai pada gereja di masa kini, sebab di ayat ini Paulus mengatakan “sama seperti dalam semua Jemaat orang-orang kudus,“ yang ditafsirkan sebagai semua gereja dalam segala zaman. Tapi apakah benar perintah ini harus dibaca sedemikian?
 
Tafsiran yang saya ambil berasal dari Marshall Janzen, seorang teolog Mennonite. Menurut Janzen, ayat 34 tidak dimulai dari frasa “sama seperti dalam semua jemaat orang-orang kudus.” Frasa tersebut, menurut Janzen, merupakan lanjutan dari ayat sebelumnya, yaitu ayat 33. Bandingkan dua cara penempatan ini:
 
Di dalam LAI
33. Sebab Allah tidak menghendaki kekacauan, tetapi damai sejahtera.
34. Sama seperti dalam semua Jemaat orang-orang kudus, perempuan-perempuan harus berdiam diri dalam pertemuan-pertemuan Jemaat. Sebab mereka tidak diperbolehkan untuk berbicara. Mereka harus menundukkan diri, seperti yang dikatakan juga oleh hukum Taurat.
 
Menurut Janzen
33. Sebab Allah tidak menghendaki kekacauan, tetapi damai sejahtera, sama seperti dalam semua Jemaat orang-orang kudus.
34. Perempuan-perempuan harus berdiam diri dalam pertemuan-pertemuan Jemaat. Sebab mereka tidak diperbolehkan untuk berbicara. Mereka harus menundukkan diri, seperti yang dikatakan juga oleh hukum Taurat.
 
Mengapa Janzen berpendapat demikian? Alasan pertama, di dalam naskah-naskah asli Perjanjian Baru, tanda koma belum dikenal, sehingga pembagian ini menjadi mungkin. Kedua, jelas dalam I Kor. 11:5, perempuan telah terlibat dalam pelayanan gerejawi yaitu memimpin doa dan bernubuat.
 
I Kor. 11:5. Tetapi tiap-tiap perempuan yang berdoa atau bernubuat dengan kepala yang tidak bertudung, menghina kepalanya, sebab ia sama dengan perempuan yang dicukur rambutnya.
 
Oleh sebab itu, jika Paulus mengatakan bahwa semua perempuan harus berdiam diri sama seperti dalam semua jemaat orang-orang kudus, maka dipertanyakan, jemaat mana yang ia maksud? Sedangkan di Korintus sendiri perempuan diperbolehkan untuk berbicara, dan tidak ditemukan pula rujukan lain di jemaat mana Paulus memerintahkan perempuan untuk berdiam diri. Jika dirujuk ke I Timotius 2:11-15 yang akan kita bahas selanjutnya, kita akan mengetahui bahwa konteks I Timotius 2:11-15 bukanlah memerintahkan perempuan untuk tidak bicara dalam pertemuan ibadah.
 
Jadi jika ayat 34 dimulai dengan kata “Perempuan-perempuan,“ maka kita dapat melihat konteks yang baru dari ucapan Paulus secara keseluruhan dalam pasal 14. Pembacaan ayat 34-35 harus melihat konteks keseluruhan pasal 14, yang secara garis besar dibagi menjadi dua bagian, bagian pertama terdiri dari ayat 1-25 sedangkan bagian kedua terdiri dari ayat 26-40. Dalam bagian pertama (ayat 1-25), kita melihat Paulus sedang menjabarkan mengenai karunia bahasa roh dan nubuat. Di sini Paulus menekankan bahwa nubuatan jauh lebih berguna daripada bahasa roh.  Sedangkan di bagian kedua (ayat 26-40), Paulus memberikan prinsip-prinsip penggunaan kedua karunia tersebut di dalam jemaat.
 
Jika diperhatikan dengan teliti, ada sebuah pola berulang yang dibuat Paulus ketika berbicara mengenai dua bagian ini. Pola yang digunakan Paulus di bagian pertama (ayat 1-25) terlihat sangat mirip dengan pola yang ia gunakan juga di bagian kedua (ayat 26-40). Pola yang digunakan Paulus dalam dua bagian ini terdiri dari: Petunjuk, Teguran, Kutipan (dari tradisi yang sudah dikenal pembaca), Penekanan kembali.
 
Kita akan melihat pengaplikasian pola ini dalam kedua bagian pasal 14.
 
BAGIAN PERTAMA (Ay. 1-25)
 
Ayat 1-19: Petunjuk
Paulus memberi petunjuk pada jemaat bahwa bahasa roh tidak membangun di dalam gereja tetapi membangun diri sendiri. Sebaliknya nubuatan membangun gereja dan mendorong tiap-tiap orang untuk menyembah Tuhan.
 
Ayat 20: Teguran
Paulus menegur jemaat, “Jangan seperti anak-anak, dewasalah!” Ini merujuk pada jemaat yang mementingkan karunia bahasa roh daripada karunia nubuat.
 
Ayat 21-22: Kutipan (dari Yesaya 28:11-12)
“Oleh orang-orang yang mempunyai bahasa lain dan oleh mulut orang-orang asing Aku akan berbicara kepada bangsa ini, namun demikian mereka tidak akan mendengarkan Aku, firman Tuhan.”
 
Ayat 23-25: Penekanan Kembali
Paulus menekankan kembali bahwa karunia nubuatan lebih berguna daripada karunia bahasa roh. Bahasa roh mengundang penghinaan dari orang-orang tidak percaya, sedangkan nubuatan membawa orang tidak percaya kepada Tuhan.
 
Sekarang kita akan bandingkan dengan bagian kedua.
 
BAGIAN KEDUA (Ay. 26-40)
Ayat 26-33: Petunjuk
Dengan menjabarkan ayat 1-25, Paulus tidak bermaksud melarang karunia bahasa roh. Di sini Paulus member petunjuk bahwa setiap orang berhak berkontribusi sesuai dengan karunia-karunianya (termasuk bahasa roh) dalam pertemuan ibadah. Tetapi ada aturannya, yaitu karunia bahasa roh harus ditafsirkan agar semua jemaat memahami, dan juga supaya ibadah tidak kacau.
 
Ayat 34-35: Kutipan (dari tradisi umum abad pertama baik dari kaum Yahudi maupun Yunani)
Perempuan harus berdiam diri dalam pertemuan-pertemuan ibadah
Jika perempuan tidak mengerti hendaklah dia bertanya di rumahnya
 
Ayat 36-38: Teguran
Paulus menegur jemaat Korintus yang seringkali meragukan nasehat Paulus: “Dengarkan aku, apa yang aku katakan adalah perintah Tuhan.”
 
Ayat 39-40: Penekanan Kembali
Di ayat-ayat ini, Paulus menekankan kembali bahwa semua orang dalam jemaat diijinkan untuk mengaplikasikan karunianya dalam pertemuan jemaat, baik itu bernubuat ataupun berbahasa roh. Namun semua harus dilakukan dalam ketertiban.
 
Dari keseluruhan konteks pasal 14, dapat kita lihat bahwa maksud Paulus dalam ayat 34-35 bukanlah melarang perempuan untuk berbicara dalam pertemuan jemaat. Berbanding terbalik dengan tafsiran gereja-gereja yang pada umumnya secara harafiah melarang perempuan untuk berbicara dalam pertemuan ibadah, Paulus justru merangkul semua jemaat termasuk perempuan untuk mempergunakan karunianya di dalam pertemuan ibadah, asal tidak mengganggu ketertiban. Penafsiran ini berbanding lurus dengan kata-kata Paulus dalam Galatia 3:28, di hadapan Allah tidak ada pembedaan antara laki-laki dan perempuan, semuanya setara. Rasul Paulus adalah seorang Yahudi yang telah mengalami konversi saat ia bertemu dengan Sang Juruselamat, sehingga terjadi pula pemutarbalikkan dalam pola pikirnya, bukan untuk tunduk pada tradisi, melainkan pada Tuhan Yesus Kristus.
 
2.       I Timotius 2:11-15
11. Seharusnyalah perempuan berdiam diri dan menerima ajaran dengan patuh.
12. Aku tidak mengizinkan perempuan mengajar dan juga tidak mengizinkannya memerintah laki-laki; hendaklah ia berdiam diri.
13. Karena Adam yang pertama dijadikan, kemudian barulah Hawa.
14. Lagipula bukan Adam yang tergoda, melainkan perempuan itulah yang tergoda dan jatuh ke dalam dosa.
15. Tetapi perempuan akan diselamatkan karena melahirkan anak, asal ia bertekun dalam iman dan kasih dan pengudusan dengan segala kesederhanaan.
 
Surat I dan II Timotius ditujukan kepada jemaat di Efesus, ditulis oleh Rasul Paulus. Jika dilihat dari konteksnya, masalah yang terjadi di Tesalonika pada saat itu adalah mulai tersebarnya ajaran-ajaran sesat ke dalam gereja Tuhan di Efesus. Ajaran sesat ini, menurut para penafsir, merupakan pengaruh dari aliran Gnostisisme. Ini tampak dalam I Tim. 4:3, di mana ajaran sesat tersebut melarang orang untuk makan makanan tertentu dan juga melarang orang untuk kawin. Ajaran Gnostisisme yang menolak tubuh jasmani dan menganggap tinggi jiwa/roh bersesuaian dengan ciri tersebut.
 
Jika kita melihat dalam II Tim. 3:6-7, kita akan menemukan bahwa ajaran sesat ini dipelopori oleh perempuan dan disebarkan kepada jemaat-jemaat perempuan di Efesus.
 
II Tim. 3:6-7
6. Sebab di antara mereka terdapat orang-orang yang menyelundup ke rumah orang lain dan menjerat perempuan-perempuan lemah yang sarat dengan dosa dan dikuasai oleh berbagai-bagai nafsu,
7. yang walaupun selalu ingin diajar, namun tidak pernah dapat mengenal kebenaran.
 
Para perempuan di jemaat Efesus menjadi pintu masuk yang terbuka bagi ajaran sesat tersebut (yang dipimpin pula oleh perempuan). Oleh sebab itu tidak heran bahwa Paulus menganjurkan perempuan-perempuan di Efesus untuk berdiam diri dan mendengarkan ajaran dengan patuh, sebab perempuan-perempuan ini menentang ajaran yang benar (II Tim. 3:8-9).
 
Frasa “berdiam diri“ yang digunakan dalam ayat 11 menggunakan kata “hesychia.“ Kata ini dapat didefinisikan sebagai diam, tetapi bukan dalam arti “tanpa bicara“ seperti yang dipakai dalam I Kor. 14:34-35. Kata hesychia dipakai oleh Paulus juga di dalam I Tim. 2:2, yang diterjemahkan sebagai “tenang.“ Selain dua ayat tersebut, Paulus tidak pernah menggunakan kata hesychia di bagian-bagian lain dalam Perjanjian Baru. Oleh sebab itu, frasa “berdiam diri“ dalam I Tim. 2:11 lebih cocok diterjemahkan sebagai “tenang,“ artinya Paulus meminta jemaat perempuan di Efesus mendengar ajaran dengan tenang, tanpa agresifitas untuk mendebat ajaran yang benar.
 
Di ayat 12, Paulus melarang perempuan-perempuan ini untuk mengajar, juga melarang mereka untuk memerintah laki-laki. Beberapa penafsir mengatakan bahwa hal ini berhubungan dengan gaya berpakaian perempuan-perempuan yang sensual (ay. 8-10), sehingga membuat para laki-laki tergoda, sehingga perempuan-perempuan ini harus diam dan tidak boleh mengajar. Tetapi saya menolak tafsiran ini, karena tak sedikitpun ay. 8-10 menekankan mengenai pakaian perempuan yang tidak senonoh, melainkan dandanan yang mahal-mahal.
 
Oleh sebab itu, menurut saya, larangan Paulus untuk perempuan mengajar bukan berhubungan dengan gaya berpakaian. Lebih masuk akal jika kita hubungkan ayat ini dengan ajaran-ajaran sesat yang tersebar oleh perempuan-perempuan Efesus ini. Ajaran sesat, yang mungkin terhubung dengan Gnostisisme ini, mengajarkan bahwa perempuan diciptakan lebih tinggi dari laki-laki, dan pemimpin dari aliran ini juga adalah perempuan.
 
Beberapa teks kuno yang ditemukan di Nag Hammadi mengkonfirmasi bahwa ajaran Gnostisisme awal memuja Sophia yang dipercaya sebagai kebijaksanaan yang dipersonifikasi dalam pribadi perempuan. Sophia adalah apa yang mereka sembah, dan Sophia itu sendiri tercermin dalam diri Hawa, yang seringkali disamakan dengan zoe (hidup sejati). Bahkan Hawa diciptakan lebih dulu dari Adam, dan seringkali mengajari Adam untuk melakukan segala sesuatu.
 
Bruce Barron, doktor dari Universitas Pittsburgh mengafirmasi bahwa ajaran sesat dalam 1-2 Timotius ini merupakan ajaran Gnostisisme awal, di mana ajaran ini mengedepankan perempuan daripada laki-laki, sehingga perempuan cenderung merendahkan laki-laki. Oleh sebab itu permasalahan dalam ayat 11-15 jelas, yaitu adanya jemaat-jemaat perempuan yang merendahkan laki-laki. Paulus tidak akan mengatakan ayat 11-15 out of nowhere, tanpa ada konteks.
 
Di ayat 13, Paulus meluruskan ajaran yang sudah dimelencengkan oleh ajaran Gnostisisme, yaitu bahwa Adam adalah yang lebih dulu diciptakan, bukan Hawa. Paulus mengingatkan mereka kembali pada ajaran Kitab Kejadian, yang harus mereka ikuti. Ayat ini tidak boleh dilepaskan dari konteks. Kita harus senantiasa mengingat konteks, bahwa di sini Paulus bukan menekanan bahwa laki-laki lebih tinggi dari perempuan, melainkan untuk mengcounter ajaran perempuan diciptakan lebih tinggi dari laki-laki.
 
Lalu tibalah kita pada bagian yang tersulit, yaitu ayat 14-15. Ayat-ayat ini seringkali digunakan oleh kaum patriarkhi untuk menuduh bahwa perempuan lebih mudah jatuh dalam dosa dibandingkan laki-laki. Sebenarnya Paulus bukan ingin menyalahkan perempuan sebagai asal-muasal dosa. Kita mengetahui dengan jelas Paulus menggunakan “Adam,” bukan “Hawa,” ketika ia berbicara mengenai penyebaran dosa.
 
Dalam Roma 5:15, Paulus menulis:
15. Tetapi karunia Allah tidaklah sama dengan pelanggaran Adam. Sebab, jika karena pelanggaran satu orang semua orang telah jatuh di dalam kuasa maut, jauh lebih besar lagi kasih karunia Allah dan karunia-Nya, yang dilimpahkan-Nya atas semua orang karena satu orang, yaitu Yesus Kristus.
 
Oleh sebab itu, jelas bagi kita bahwa bukan maksud Paulus untuk mengatakan bahwa Hawa adalah penyebab dari penyebaran dosa. Lalu apa maksud Paulus? Kita harus melihat ayat 14 dan ayat 15 sebagai bagian yang tidak terpisahkan. Ayat 15 merupakan kunci penting untuk menafsirkan ayat 14 secara utuh. Ayat 15 menulis, “Perempuan akan diselamatkan karena melahirkan anak.” Hal ini merujuk kepada sejarah keselamatan, kelahiran Mesias ke dunia lewat Rahim seorang perempuan. Paulus ingin mengatakan bahwa perempuan memiliki peran yang penting dalam sejarah keselamatan, merujuk pada Maria yang melahirkan Mesias lewat rahimnya. Merujuk pada peran penting perempuan ini, Paulus menghimbau perempuan untuk tidak menyebarkan ajaran sesat, melainkan “bertekun dalam iman dan kasih dan pengudusan dengan segala kesederhanaan.”
 
Selain itu, ayat 15 juga sedang mengcounter ajaran Gnostisisme, yang melarang orang untuk kawin (I Tim. 4:3), karena menurut mereka materi itu jahat, sehingga melahirkan anak juga adalah hal yang dilarang. Sebaliknya, jelas bahwa Allah memberikan mandat budaya pada manusia untuk berkembangbiak (Kej. 1:28).
 
Akhir kata, I Tim. 2:11-15 harus dilihat sebagai sesuatu yang dikatakan Paulus berdasarkan konteks jemaat saat itu, yang sedang menghadapi ajaran sesat Gnostisisme. Ayat-ayat ini tidak boleh dilihat sebagai sebuah perintah yang universal dan berlaku sampai saat ini. Gereja-gereja yang menggunakan ayat-ayat ini untuk melarang perempuan “naik mimbar” menunjukkan semangat patriarkhi yang masih kuat dalam gereja, di mana mereka menafsirkan ayat ini berdasarkan pengertian dan wawasan dunia mereka sendiri tanpa mempedulikan konteks.
 
Penutup
Tafsiran-tafsiran yang saya jabarkan terhadap dua ayat “mematikan untuk perempuan” di atas bukanlah tafsiran baru. Saya yakin sudah banyak gereja yang tidak asing terhadap tafsiran-tafsiran di atas. Tetapi mengapa mereka memilih untuk menutup mata dan tetap melarang perempuan untuk berkhotbah dan mengajar? Ada yang mengatakan bahwa alasannya adalah tradisi. Tetapi apakah kita masih meletakkan tradisi di atas firman Tuhan, ketika kita mengatakan bahwa kita adalah orang-orang yang sudah ditebus di dalam Kristus? Seperti Rasul Paulus, yang telah mengalami perubahan upside down dalam pola pikirnya terhadap tradisi, demikian juga seharusnya kita. Tradisi yang tidak sesuai dengan firman Tuhan haruslah kita tolak, karena Tuhan kita bukanlah tradisi melainkan Tuhan Yesus Kristus, yang mengasihi semua orang tanpa memandang ras, suku, dan gender.

Takut dan Malu

kamu lagak tak peduli
saat mereka mengomentari
bagian-bagian tubuhmu
seakan kamu adalah batu

padahal takut dan malu
takut malah dibully
malu dengan sekitarmu
jika kamu membela diri

wanita harus diam, kata ibumu
kamu taat tanpa murka
padahal takut dan malu
dianggap anak durhaka

kamu tak pernah tahu
bahwa takut dan malu
adalah buatan mereka
yang gemar ‘kan nafsu fana

Hewan-Hewan Kesepian

hewan-hewan kesepian
hanya tau makan
mencari roti
dan pundi-pundi
lupa makna
lupa cita
tanpa leluasa
tolak penguasa

tak punya jiwa
raga yang fana
mata redup
rindukan guyub
hasil tangan
bayar cicilan
senyum terpaksa
pada penguasa

bosan jelata
impikan takhta
berjuang paksa
sampai berbusa
jilat penguasa
bak hewan berbisa
yang buta aksara
dan tak berlogika

Cantik Itu…

Cantik itu diam, katamu
Karena bagimu aku bicara tak perlu
Hal-hal frontal di depanmu
Dan aku tidaklah ayu

Cantik itu lembut, katamu
Karena aku slebor dan tak malu2
Tak sedia jadi obyek kaummu
Dan aku tidaklah ayu

Cantik itu patuh, katamu
Karena kutolak label kaummu
Terhadap kaumku sejak zaman dulu
Dan bagimu, aku tidaklah ayu